Saat ini banyak pekebun yang mulai menyebarkan kakao organik. Pasalnya, permintaan kakao pada pasar tergolong besar , namun ketersediaan komoditas ini masih terbatas. Tren budidaya tanaman ini diklaim menguntungkan petani sebab harga jual biji kakao jadi lebih tinggi.
Melansir berasal Majalah Trubus Edisi 631, pekebun kakao organik pada Kabupaten Pesawaran, Lampung, Tommy Setiono, berhasil menerima omzet dari penjualan biji kakao minimal Rp315 juta sebulan. Harga jual akan semakin tinggi Jika biji dijual selesainya difermentasi. kini , Tommy tengah mengurus sertifikasi organik.
Sejalan menggunakan Tommy, praktikus kakao di Kaupaten Tabanan, Bali, Nyoman Suparman, S.P., tengah mengebunkan kakao organik di lahan seluas 400 hektare. Nyoman telah memiliki sertifikat organik dari SNI dan Eropa (Organic ACT-EU).
berdasarkan pengalaman kedua pekebun tadi, budidaya kakao organik pula menguntungkan buat jangka panjang. Pasalnya, kualitas lingkungan budidaya menjadi lebih baik, terutama kondisi tanah yg dipergunakan sebagai media tanam.
Potensi kebun pada tanaman ini lebih tinggi dibanding kebun konvensional. Nilai tambah berasal kakao organik artinya sebagai produk sehat. Nilai tersebut sebagai optimal Jika diolah menjadi berbagai produk olahan, mirip cokelat serbuk, cokelat batangan, kukis, aneka minuman, dan produk cokelat spesifik buat penderita diabetes melitus.
Pasar tanaman tersebut saat ini masih mayoritas di pada negeri. tetapi, kini banyak penghasil yg sudah menyasar pasar ekspor, mirip Korea Selatan dan Rusia.
Selain dikebunkan secara organik, sekarang banyak pekebun kakao yang melakukan budidaya pada lahan yg tidak begitu besar , yakni kurang dari 1 hektare. mirip pekebun kakao pada Ciamis, Jawa Barat, Yoseph Kurniawan, berhasil memanen 100 Kilo Gram kakao kering akibat fermentasi berasal kebunnya yg hanya seluas 1 hektare. yang akan terjadi panen tersebut dijual dengan harga Rp22.000 per Kilo Gram. Petani memang lebih diuntungkan menjual biji kakao yang sudah difermentasi.
aktivitas budidaya yg dilakukan oleh Yoseph disebut skala kecil sebab pekebun hanya mengelola lahan seluas 0,52 hektare. Adapun skala besar dilakukan pada lahan seluas 100 hektare mirip yg dilakukan sang perusahaan.

