Petani Maju 4.0 ?
Sebagai petani tampaknya bukan lagi profesi yang menarik bagi poly pemuda masa sekarang, tapi bagi Shaqil Effendi (23 tahun) pandangan seperti itu telah berlalu. Pemuda kelahiran Senipah, Kalimantan Timur, ini semula tidak pernah berpikir bakal menjadi petani.
Meski lahir pada tengah famili transmigran yang umumnya petani, dia lebih suka bekerja menjadi karyawan perusahaan swasta. namun kini beliau terpanggil sebagai petani, sebab dia melihat tak terdapat regenerasi petani di desanya.
Faktor lain yang mendorongnya buat bertani artinya sosialisasi konsep pemanfaatan teknologi buat pengembangan pertanian yang ditawarkan oleh PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM) yakni acara Petani Maju 4.0. Hal itulah yang menghasilkan Shaqil bersama 26 pemuda dari desanya, sekarang bergiat pada bidang pertanian.
Kampung Kamal hanya berjarak dua kilometer asal keliru satu fasilitas produksi di daerah Kerja (WK) Mahakam: Bekapi-Senipah-Peciko-South Mahakam (BSP), yg dioperasikan PHM. Kampung itu sejatinya potensial buat dijadikan area pertanian, karena di sana terhampar 41 hektar huma tidur.
Hanya saja, budaya bertani telah ditinggalkan dan ilmu bercocok tanam telah dilupakan. pada sisi lain, pengelolaan pertanian secara instan telah membuka potensi kerusakan lingkungan serta ancaman kebakaran lahan Jika tidak dikelola dengan baik.
PHM menginisiasi acara Petani Maju 4.0 Dari tahun 2018 karena perusahaan telah mengidentifikasi banyak sekali persoalan terkait pengelolaan lahan tersebut. program ini dimulai dengan membentuk pemetaan sosial serta identifikasi daerah, dilanjutkan menggunakan mendorong pembentukan kelompok tani, serta waktu ini program tersebut sudah bergulir.
dari Frans Alexander A Hukom, Head of Communication, Relations & CID PHM, penekanan acara saat ini ada di tahapan penguatan serta pengembangan dimana PHM aktif memberikan pembinaan dan pendampingan kader pemuda dan wanita tani.
“Harapannya di tahun 2022, program Petani Maju 4.0 bisa sebagai acum serta daerah percontohan agrowisata ramah lingkungan di wilayah Kutai Kartanegara,” pungkasnya ditulis Sabtu (4/12/2021).
Teknik yang diperkenalkan pada program ini artinya pertanian pertakultur yang ramah lingkungan serta memperhatikan aspek keberlanjutan. Teknik pertanian ini galat satunya menerapkan pemanfaatan bahan dan alat pertanian yang diproduksi sendiri oleh grup tani.
ketika ini PHM membina 2 grup tani yg menguasai pengetahuan bertani dengan teknik pertakultur. contohnya: limbah pertanian dan peternakan diolah sebagai pupuk organik dan secara mandiri telah mampu memproduksi pupuk organik cair (PCO) sampai 500 liter per bulan.
PCO ini jua dipergunakan buat pemupukan dalam proses penyemaian tumbuhan langka pada greenhouse BSP untuk mendukung acara keanekaragaman biologi. grup petani binaan ini pula dilatih menghasilkan media tanam secara berdikari, yang sekarang mencapai 300 Kilo Gram per bulan.
“dari ke 2 material pendukung tadi, grup tani waktu ini mampu mendapatkan tambahan penghasilan hingga Rp 9,6 juta per tahun,” kata Frans.
gerombolan petani pada Kampung Kamal sekarang jua memasok kebutuhan sayur mayur dan buah buahan yg mereka hasilkan buat catering PHM melalui kontraktor perusahaan jasa katering yang melayani PHM di fasilitas BSP. Pengiriman perdana produk pertanian itu berlangsung pada 5 Agustus 2020 lalu.
dengan demikian kelompok tani kampung Kamal jua ikut mendukung kegiatan operasi perusahaan melalui pasokan butir-buahan dan sayuran mirip; pepaya, nenas, tomat, timun, terong dan lain lain. Terlebih lagi dimasa pandemi ini pasokan sayur serta butir-buahan akan turut menaikkan imunitas para pekerja serta mitra PHM untuk kelancaran produksi minyak serta gas pada BSP khususnya.
Lurah Sanipah, Amir Lufni, SE., M.Si., menyambut baik prakarsa PHM membina para pemuda di daerahnya buat menjadi petani dan sekaligus membukakan akses buat pemasaran.
“dengan diizinkan menjadi galat satu pemasok kebutuhan bahan baku makanan bagi perusahaan, para petani mendapat alternatif pemasaran buat menaikkan penyerapan akibat panennya,” pungkasnya.
PHM menargetkan grup pemuda buat implementasi program ini, sebab merekalah yg diperlukan dapat meneruskan budaya bertani di Kampung Kamal, serta pada sisi lain para pemuda itu sebagian akbar tidak berminat menjadi petani.
“Awalnya pemuda yg mau terlibat langsung mampu dihitung jari,” kata Amir.
namun sekarang sehabis program diluncurkan, jumlah pemuda yang bergabung sudah relatif banyak, pada antara mereka ada yang terlibat langsung pada kegiatan pertanian serta peternakan, serta terdapat jua yang aktif pada pemasaran produk.
Teknologi lain yg diperkenalkan ialah pemanfaatan perangkat lunak Tanam Digital yang sebagai wahana pemasaran daring serta akses informasi produk pertanian serta peternakan. ketika ini para pemuda tersebut sebagai operator aplikasi tersebut, guna menghadirkan investor berasal luar Kampung Kamal.
Hal menarik lainnya, kepada mereka diperkenalkan penggunaan drone buat aktivitas patroli hijau.
”sekarang mereka mampu memasak data buat memantau kesuburan dan sekaligus mengidentifikasi titik-titik lahan yg rawan kebakaran,” ujar Frans. acara Petani Maju 4.0 adalah salah satu upaya PHM sebagai operator pada WK Mahakam buat berkontribusi dalam membentuk rakyat disekitar wilayah operasi melalui sistem pertanian serta peternakan yang ramah lingkungan serta berkelanjutan.

