Bawang prei (Allium ampeloprasum) merupakan bawang daun berukuran jumbo, ukurannya lebih besar berasal bawang daun A. fistulosum. di Indonesia, jenis bawang daun ini pula dikenal sebagai bawang leek. Keunggulan prei ialah aroma yg lebih lembut dibanding daun bawang biasanya. tanaman ini berasal berasal Mediterania serta telah bisa dibudidayakan pada Indonesia. Budidaya bawang prei cocok dilakukan pada wilayah dingin bersuhu 20–25°C atau pada ketinggian 1.000 m dpl.
Media tanam
Media tanam yang cocok buat menanam bawang prei artinya arang sekam yang bisa membentuk tumbuhan mengikat air lebih poly pada musim kemarau. Prei membutuhkan tanah yg subur dan kaya bahan organik sehingga media tanam perlu ditambahkan pupuk sangkar. Pupuk kandang serta arang sekam ditambahkan ketika awal penanaman dengan perbandingan 1/3 arang sekam dan dua per 3 pupuk kandang.
Bibit ditanam dengan jeda tanam 25 cm × 25 centimeter sehingga total populasi mencapai 16.000 tumbuhan per hektare. Proses budidaya bawang prei seperti mirip tebu sebab karakter daun yg vertikal sehingga jarak tanam tidak perlu lebar sebagai akibatnya kemungkinan jarak tanam 15 cm × 15 cm juga bisa dipergunakan.
Perawatan
berdasarkan beberapa petani, budidayanya tergolong lebih simpel dibanding jenis bawang daun umumnya. Media tanam diberikan pupuk NPK berimbang setiap dua pekan sekali. Pupuk diberikan sampai batang tumbuhan tumbuh dengan tinggi 20 cm. Selanjutnya, tanaman hanya perlu diberikan pupuk daun. tanaman ini membutuhkan intensitas penyinaran yang lama .
Panen tanaman sudah bisa dipanen setelah berumur 6 bulan sejak semai. Produktivitasnya bisa mencapai 4 ton per hektare. Harga jual bawang daun ini cenderung lebih tinggi asal harga bawang daun sehingga komoditas pertanian ini tergolong memiliki prospek yang cantik. Aromanya cenderung lebih bertenaga 10 kali lipat daripada bawang daun. biasanya, bawang prei dipergunakan buat adonan bahan makanan mirip omelet, sup, serta pasta.

